Adat Batak

Just another Edublogs.org weblog

October 20, 2003 by · No Comments · Uncategorized

Syaloom

Seorang novelis Rusia, saya lupa namanya, mungkin DOSTOYEVSKY pernah menulis cerpen yang indah, lucu, menggoda sekali. Saya membumbuinya sedikit.

Seribu sembilan ratus tahun setelah disalibkan, pada suatu ketika Yesus melihat ke bawah. Ia menemukan sekian banyak gereja. Ada saja seorang pastor atau seorang pendeta yang mengurusnya.

Ia berpikir,”Keadaan di dunia sudah berubah. Kali ini kalau aku turun, mereka pasti akan menerimaku dengan tangan terbuka.” Dan Ia pun langsung menghadap BAPA,” Bapa, biarkan aku turun sekali lagi. Sepertinya mereka sudah siap menerimaku.”

Bapa tersenyum.”Yesus anakku, apa yang membuat kamu berpikir demikian?”

Yesus menjawab,”Karena sudah ada sekian banyak gereja, tempat ibadah yang tersebar di seluruh dunia. Sampai ke desa-desa terpencil pun ada paling tidak seorang pastor, ada paling tidak seorang pendeta yang mengabdi dan melayani umat. Kiranya mereka sudah sadar.”

Allah Bapa menanggapi Yesus Yang Ia Sayangi,”Jangan cepat cepat mengambil kesimpulan. Jumlah gereja, pastor, pendeta tidak menjamin kesadaran mereka. Sungguh sangat tidak sadar para manusia di bumi. Agama pun telah mereka jadikan komoditas. Ada yang memakainya untuk kepentingan politik. ada yang menggunakannya sebagai alat untuk memecah belah umat manusia, lalu menguasai mereka. Sudahlah, jangan lagi memikirkan manusia di bumi.”

Yesus tetap saja bersikeras,”Mohon Tuhan, beri aku satu kesempatan lagi. Beri mereka satu kesempatan lagi. Saya dengar mereka sedang menanti-nanti kedatanganku.”

Terpaksa, Bapa mengabulkan Permohonan Yesus. Dan Yesus pun turun ke dunia. Melihat gereja-gereja yang megah dan kehidupan para pastor maupun para pendeta yang mewah, Ia bingung,” Bagian mana ajaranku yang mereka pakai?”

Ia mengelilingi seluruh dunia. Gereja mana yang harus Ia kunjungi? Tiba-tiba Ia merasa kesepian. Di tengah keramaian dunia, Ia berdiri “sendiri”. Diantara kerumunan massa yang mengaku kristen, Ia mencari-cari umatnya.

Sementara Ia selalu menekankan bahwa,”Manusia tidak hidup karena roti saja.” Bahwa di luar urusan perut, kedudukan, kekayaan dan ketenaran masih banyak urusan lain. Sekarang, mereka yang “mengaku” pastor dan pendeta, justru menjanjikan “rezeki”, “kursi” dan entah apa lagi, untuk menarik umat!

Tetapi Ia tidak putus asa,”Dari sekian banyak gereja, pastor, dan pendeta, masa tidak ada satupun yang memahami ajaranku dengan benar?”

Akhirnya Ia pun menemukan satu gereja yang terpencil, jauh dari kota. Bangunannya sangat sederhana. dan pastor yang mengurusnya juga kelihatan ramah, masih belum tercemar oleh polusi kota-kota besar.

Kebetulan hari itu hari minggu …

Umat kristen tengah mengikuti kebaktian. Yesus menunggu di luar gereja itu. Ia tidak ingin menggangu mereka. Ia menunggu sampai selesai misanya. Lalu mereka mulai keluar, Ia mendekati mereka,”Temanku, Aku senang sekali melihat kesederhanaan kalian. Setelah keliling dunia, baru aku temukan gereja yang seperti ini.”

Ada yang menanggapinya dan mengucapkan “Terima Kasih”. ada juga yang tidak menanggapinya dan hanya menganggukkan kepala. Satu diantara mereka memperhatikan jubah Yesus,”Sepertinya kau orang baru di dusun ini. Jubahmu lucu, seperti Yesus.”

Yesus memperkenalkan dirinya,”Aku memang Yesus dan baru saja datang ke dusun ini.”

Mereka yang mendengarnya menganggap dia orang gila,”Yesus? Berani beraninya kau mengaku dirimu Yesus?”

“Bukan mengaku, aku memang Yesus.”

Mereka menyimpulkan bahwa Ia gila. mereka tidak mengenalinya.

Yesus berupaya meyakinkan mereka,”Kenalilah aku Akulah Yesus yang kalian sembah dan puja. Namakulah yang kalian muliakan dalam gereja. Kedatangankulah yang kalian nanti-natikan. dan aku sengaja memilih dusun ini, memilih gereja kalian, untuk kujadikan rumahku, selama aku berada d dunia.

“Kalau tidak gila, kamu pastilah seorang nabi palsu, yang memang sudah diramalkan dalam alkitab.”

Begitulah sambutan yang di terima oleh Kristus, dari umat kristiani! sementara, melihat keramaian diluar, sang pastor pun keluar,”Ada apa ini?”

“Lihat Romo, orang ini mengaku dirinya Yesus.”

Sang pastor memperhatikan sorot tajam mata Yesus, lalu menundukkan kepalanya,”Orang ini ingin menyesatkan kalian. Biarkan saya yang menghadapinya. Kalian boleh pulang.”

Ia mengajak Yesus masuk kedalam gereja. Lalu mengunci pintu dari dalam. Tinggal Yesus dan pastor berdua saja. sang pastor bersungkam dan mencium kaki Yesus, Tuhan, maafkan saya.”

Yesus tambah bingung,”Berarti kamu mengenali aku.”

“Tentu, Tuhan. Saya mengenali Tuhan.”

“Lalu kenapa tidak mengatakan demikian kepada jemaatmu? Kenapa pernyataanmu diluar lain (berbeda)?”

“Maaf Tuhan, saya takut.”

“Takut? takut apa anakku? Apa yang kau takuti?”

Yesus betul-betul tidak memahami maksudnya. Sang Pastor menjawab,”Begini Tuhan. Dulu hampir dua ribu tahun yang lalu ketika mendatangi dunia ini, Tuhan mengobrak-abrik Bait Allah. Tradisi-tradisi lama yang sudah usang Tuhan dobrak.

“Lalu?” tanya Yesus.

“Mohon Tuhan tidak melakukannya lagi. Kalua Tuhan mengobrak-abrik gereja-gereja yang tersebar di seluruh dunia ini, kalau Tuhanku mendobrak tradisi-tradisi yang telah kami pertahankan selama hampir dua ribu tahun, maka semuanya akan hancur lebur. tak satupun gereja akan tersisa. Tidak satupun pastor atau pendeta akan lolos. Usaha kita selama ini akan sia-sia.”

“Usaha? Usaha, kau katakan?”

Yesus bisa marah. Ia sangat manusiawi. Dulu waktu melihat orang-orang Isarael “meng-usahakan” tempat Allah, Ia pun pernah marah.

“Maaf Tuhan, maaf. Itulah sebabnya Tuhan. Tolonglah jangan kemari lagi. Di dunia ini, semuanya sudah berjalan lancar. Para Pastor sudah mapan. Para pendeta sudah hidup senang. Jumlah gereja pun bertambah terus. Biarkan kami mengurus gereja Tuhan. Kami tidak ingin merepotkan Tuhan lagi.”

Hari itu Yesus baru menyadari bahwa umat manusia masih tetap sama. tidak terjadi pertobatan apapun juga. Malah semakin LICIK, semakin GILA.

–##–

Artikel ini adalah sebagai ketukan buat kita untuk tetap membuka mata hati kita dan bertobat. Ini adalah sentilan buat kita umatnya yang bebal dan tidak mengenali Kehadirannya di tiap detik hidup kita. Kuharap kita sama sama bisa mengambil point positif dari artikel ini. Amin

October 15, 2003 by · No Comments · Uncategorized

Sejarah HKBP

HKBP sebagai salah satu gereja dengan jemaat terbesar di Asia dan merupakan wadah persekutuan umat Kristen dari suku Batak yang memiliki dinamika di dalam sejarah perkembangannya dari masa ke masa. Dengan berakhirnya krisis HKBP dan penyatuan kembali jemaatnya kiranya dapat menjadi pemacu untuk pelaksanaan pelayanan dan pekabaran Injil bersama-sama dengan jemaat Tuhan lainnya, agar semua suku, kaum dan bangsa yang berada di wilayah Indonesia dan di seluruh dunia mendapat baptisan di dalam nama
Allah Bapa, PuteraNya Yesus Kristus dan Roh Kudus.

Kronologi
1825 – 1829 Perang Bonjol : Tuanku Rau menyerang bangsa Batak

1834 Datangnya Pdt. Munson dan Pdt. Lyman utusan Kongsi Zending Amerika (Boston), tetapi mereka berdua tewas terbunuh di Lobupining.

1840 Junghun, seorang antropolog datang ke tanah Batak. Melalui kedatanagannya orang Eropa dapat mengenal orang Batak.

1824 Penginjil yang pertama datang ke tanah Batak, yakni Burton dan Ward

1849 Tuan Van der Tuuk dari Amsterdam – Belanda, utusan Kongsi Bible Netherland yang merupakan pembuka (perintis) jalan untuk pelayanan zending kepada suku Batak. Beliau menterjemahkan sebagian isi Alkitab ke dalam Bahasa Batak, menulis tata Bahasa Batak dan membuat kamus Bahasa Batak – Belanda beserta cerita-cerita rakyat.

1853 Akibat perlakuan yang tidak simpatik dari suku Banjarmasin terhadap pendeta, maka Dr. Fabri pimpinan dari Rheinische Zending – Belanda memutasikan para pendeta dari Banjarmasin ke Tanah Batak, setelah membaca surat yang datang dari Tanah Batak tentang pekabaran Injil yang baru dirintis di Tanah Batak.

1857 Pdt. Van Asselt dari Ermelo-Belanda, utusan Ds. Witteveen, melakukan pelayanan di Tapanuli di Desa Pardangsina (Selatan)

31 Maret 1861 Sebagai tanda diterimanya pekabaran Injil di Tanah Batak dimulai dengan adanya baptis perdana yang dilakukan oleh Pdt. Van Asselt terhadap dua orang suku Batak (Jakobus Tampubolon dan Simon Siregar) di Sipirok.

7 Oktober 1861 Pelayanan Rheinische Mission dari Jerman dimulai di Tanah Batak dan merupakan hari lahirnya Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), ditandai dengan berundingnya empat orang Missionaris, Pdt. Heine, Pdt. J.C. Klammer, Pdt. Betz dan Pdt. Van Asselt membicarakan pembagian wilayah pelayanan di Tapanuli.

1862
Berdirinya Jemaat di Sarulla dan Pangalaon Pahae

20 Mei 1864 Pdt. I. L. Nommensen membangun gedung di dusun Dame I yang terletak di Desa Saitnihuta Ompu Sumurung, kemudian dinamakannya Godung Huta Dame.

29 Mei 1864 Pdt. I. L. Nommensen mengadakan kebaktian minggu pertama di Godung Huta Dame, dan meresmikan gereja pertama yang dibangunnya di Tanah Batak, yaitu HKBP Saitnihuta (Huta Dame Saitnihuta) dan HKBP Pearaja (Kedua gereja ini satu kepanitiaan dalam merayakan Pesta Jubileum. Pada tanggal 20 Mei 1964, HKBP Pearaja merayakan Pesta Jubileum ke 100 tahun, tetapi untuk selanjutnya, tanggal 29 Mei merupakan tanggal resmi Pesta Jubileum yang akan dilakukan oleh kedua gereja ini).

25 Desember 1864 Pembaptisan Pertama kepada 3 orang di Gereja Sipirok, yaitu Thomas Siregar, Pilipus Harahap dan Johannes Hutabarat.

27 Agustus 1865 Pembaptisan Pertama kepada 13 orang di Silindung

1867 Berdiri jemaat HKBP Pansurnapitu

1868 Berdiri Sekolah Guru di Parau Sorat Sipirok: Murid pertama berjumlah 5 orang, yaitu: Thomas, Paulus, Markus, Johannes dan Epraim. Guru mereka adalah Dr. A.Schreiber dan Leipold

1870 Permulaan berdirinya Jemaat di Sibolga dan Sipoholon

1872
- Berdiri Sekolah Normal Pemerintah di Tapanuli Selatan
- Berdiri Jemaat di Bahal Batu

1877 Berdiri Seminarium di Pansurnapitu, jumlah murid pertama 12 orang

1878
- Pdt. I. L. Nommensen menerjemahkan Injil ke Bahasa Batak dalam aksara Batak dan aksara Latin.
- 306 Desa di Lembah Silindung masuk dalam pemerintahan Kolonial Belanda

1879 Pdt. Dr. A. Schreiber menterjemahkan Perjanjian Baru kedalam bahasa Batak Angkola

1881
- Diresmikan HKBP di Balige.
- Penyusunan Aturan Dasar dan Aturan Rumah Tangga HKBP, dan Pdt. Dr. I. L. Nommensen diangkat menjadi Ephorus HKBP

1883 Sekolah Pendeta Pertama dibuka dan 4 orang putera Batak pertama untuk Sekolah Pendeta, yaitu : Johannes Siregar, Markus Siregar, Petrus Nasution dan Johannes Sitompul. Tetapi, Johannes Sitompul wafat sebelum menyelesaikan studinya.

19 Juli 1885 Pemberkatan Pendeta Batak yang pertama di HKBP Pearaja, yakni : Johannes Siregar, Markus Siregar, Petrus Nasution.

13 Juli 1889 Diutus RMG Nona Hester Needham (23 Januari 1885 – 12 Mei 1897) melayani kaum ibu dan wanita. Ini menjadi awal pelayanan kepada kaum wanita dan anak-anak di Tanah Batak. Pelayanan Nona Hester Needham dibantu oleh Nona Thora di Silindung dan Nona Nieman di Toba.

1 Januari 1890 Terbit Surat Parsaoran Immanuel (Jurnal Gereja)

8 Januari 1890 Dimulai Nona Hester Needham melayani anak-anak, kaum perempuan di Pansurnapitu, serta turut membimbing murid-murid Sekolah Pendeta di Seminari Pansurnapitu.

1893 Sekolah Zending mendapat subsidi dari Pemerintah

1894 Perjanjian Lama di terjemahkan ke dalam Bahasa Batak oleh Pdt. P.H. Johannsen

16 Juli 1895 Nona Hester Needham ditemani seorang gadis Mandailing, Domi, mengadakan perjalanan ke Muarasipongi Kotanopan.

3 Mei – 26 Juli 1896 Nona Hester Needham melayani di Malintang, menginjili di tengah-tengah penganut agama lain di Mandailing Nametmet. Juli, Nona Hester Needham melayani di Maga hingga akhir hayatnya, serta di makamkan di tanah yang telah dibelinya sebelumnya.

1898 Terbit untuk pertama kalinya Kalender Gereja

1899 Dimulai “Pardonaion Mission Batak” yang didirikan orang Kristen Batak serta dipimpin Pdt. Henock Lumbantobing menginjili di daerah yang belum disentuh Injil, yakni: Pulo Samosir, Simalungun dan Dairi.

1900 Berdiri Sekolah Anak Raja dengan pengantar Bahasa Belanda di narumonda Toba. Guru Pohing dan Pdt. Otto Marcks. Sekaligus berdiri di tempat yang sama Sekolah Tukang.

2 Juni 1900 Berdirinya Rumah Sakit di Pearaja, yang di tahun 1928 pindah ke Tarutung (RSU Tarutung Sekarang)

5 September 1900 Berdiri Perkampungan penderita Kusta di Huta Salem Laguboti.

1901 Seminari Pansurnapitu pindah ke Sipoholon

1903
- Pemberitaan Injil ke Tanah Simalungun dimulai.
- Sekolah anak Raja di Narumonda menjadi Seminarium
- 7 Oktober Pesta Peringatan Kekristenan yang pertama di Tanah Batak.

1907 Berdiri Jemaat di Pematangsiantar

27 April 1908 Hari lahirnya Jemaat di Sidikalang.

1911 Berdiri Distrik di HKBP, yakni : Tapanuli Selatan (dh. Angkola), Silindung, Humbang, Toba (termasuk Samosir), Sumatera Timur (Simalungun – Ooskust).

1912 Pendeta HKBP Pertama di tempatkan di Medan

1917 “Hatopan Christen Batak” berdiri di Tapanuli sebagai organinasi masyarakat.

23 Mei 1918 Pdt. Dr. I.L. Nommensen meninggal dunia di Sigumpar

1918 Pdt. V. Kessel menjadi Pejabat Ephorus hingga tahun 1920

1919 Holland Inland School (HIS) Zending berdiri di Narumonda

1920 Pdt. Dr. J. Warneck dipilih menjadi Ephorus HKBP.

1922
- Pendeta HKBP pertama di tempatkan di Jakarata
- Guru Jemaat HKBP pertama di tempatkan di Padang
- 20 Juni: Sinode Agung (Sinode Godang) I di HKBP

3 Desember 1923 Dimulai pelayanan diakonia di Hepata

1927
- Berdiri MULO Kristen di Tarutung
- Pelayanan kepada kaum Muda yang dipimpin Dr. E. Verwiebe. Pada Juni 1952 dalam rapat Pemuda di Sipoholon ditetapkan menjadi NHKBP, dan menjadi awal minggu kebangkitan NHKBP (Parheheon)

1930 Berlaku Aturan Gereja (AD dan ART) yang baru.

11 Juni 1931 HKBP diakui pemerintah dengan Badan Hukum (Rechtperson) No. 48, yang tertulis di Staatsblad Tahun 1932 No. 360

1932 Pdt. P. Landgrebe dipilih menjadi Ephorus.

1934
-Berdiri Sekolah Tinggi Teologia di Jakarta, utusan HKBP yang pertama adalah : T.S. Sihombing, K. Sitompul, O. Sihotang dan P.T. Sarumpaet.
- Pendeta HKBP pertama di tempatkan di Kutacane, Tanah Alas.
-Berdiri Sekolah Bibelvrouw (Penginjil Wanita) di Narumonda yang dipimpin Zuster Elfrieda Harder. Tahun 1938 Sekolah ini pindah ke Laguboti.

1935 Pentahbisan Bibelvrouw yang pertama

1936 Pdt. Dr. E. Verweibe dipilih menjadi Ephorus.

1940
- 10 Mei semua Pendeta Jerman yang melayani di HKBP dipenjarakan Pemerintah Belanda
- Bulan Mei s/d Juli Ds. de Kleine menjadi Pejabat Ephorus.
- 10-11 Juli : Sinode Godang, Pdt. K. Sirait dipilih menjadi Voorzitter (Ephorus ) yang pertama dari Pendeta Batak.

1942
- Pdt. Justin Sihombing dipilih menjadi Ephorus.
- Tanggal 25 Nopember berdiri Distrik Samosir
- Distrik Jawa Kalimantan berdiri

1945 Kemerdekaan Republik Indonesia

1946
- 2 Februari : Berdiri Distrik Dairi.
- Sekolah Guru Huria (SGH) dibuka kembali di Seminarium Sipoholon

1947 Berdiri kembali Sekolah Pendeta di Seminarium Sipoholon

1950
- 4 Nopember : Berdiri Sekolah Teologia Menengah di Sipoholon
- Pdt. Justin Sihombing dipilih kembali menjadi Ephorus HKBP dan Ds. K. Sitompul menjadi Sekretaris Jenderal melalui Sinode Godang.

1951
- Universitas Bonn menganugerahkan gelar “Doktor Honoris Causa” kepada Pdt. J. Sihombing.
- 29 Nopember : Beridiri Distrik Sibolga dan Medan Aceh.
- Ditetapkan Sinode Godang Konfesi HKBP
- Berdiri Percetakan HKBP di Pematangsiantar

1952
- Berdiri SMA dan SGA di Tarutung
- HKBP menjadi Anggota LWF (Lutheran World Federation)

1954
- Pdt. B. Marpaung diutus Zending Batak menginjili di Pulau Mentawai
- 7 Oktober : Peresmian Universitas Nommensen di Pematangsiantar, sekaligus perpindahan Pendidiakan Teologia dari Seminarium Sipoholon ke Pematangsiantar.
- Nopember : Berdiri Distrik Toba Hasundutan.
- 15 Desember Penyerahan Rumash Sakit HKBP dari Pemerintah ke HKBP.

1955
- 13 Februari : Berdiri Panti Asuhan Elim di Pematangsiantar
- 25 Agustus : Berdiri Sekolah Puteri di Sipoholon

1957 17 Maret : Kirchentag (Kebatian Raya) di Pematangsiantar

1959 Pdt. Justin Sihombing dipilih menjadi kembali Ephorus HKBP dan Ds. T.S. Sihombing menjadi Sekretaris Jenderal. .

1961
- Berdiri Sekolah Tekhnik di Pematangiantar
- 7 Oktober : Jubileum 100 tahun HKBP di Tarutung

1962
- 3-7 Oktober : Sinode Godang Istimewa di Seminarium Sipoholon
- Ds. T.S. Sihombing dipilih menjadi Ephorus dan Ds. G.H.M. Siahaan menjadi Sekretaris Jenderal.
- Ditetapkan Aturan Peraturan (Ad & ART) yang baru.

1963
- Konferensi Kerja HKBP yang pertama.
- 1 September : HKBP Melepaskan HKBP Simalungun menjadi Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS).
- Awal dari Penginjilan di Sakai Kandis Riau.
- Kursus kaum Ibu yang pertama di Sipoholon.

1965
- 7 Februari : Peresmian Asrama Diakones HKBP “Kapernaum” di Rumah Sakit HKBP Balige.
- 9 April : Asrama Bibelvrouw di Sinaksak Pematangsiantar dimulai pemakaiannya, dan diresmikan tanggal 9 Juli 1967.

1966 6 Februari : Peresmian Youth Center “Jetun Silangit”

1967 2 April : Peresmian Asrama Pniel di Rumah Sakit HKBP Balige

1968 19 Februari : Peresmian Gedung-gedung di FKIP Universitas HKBP Nommensen di Pematangsiantar.

1971
- 17 Mei : Pendidikan Diakones dibuka di Balige.
- 17 Mei : Pembaptisan pertama kepada orang Rupat (daerah Penginjilan) sebanyak 136 orang yang dilayankan oleh Pdt. A.B. Siahaan, dkk.
- 11 Desember : Peresmian Asrama Bethel dan Betania di Rumah Sakit HKBP Balige.

1972
- 28 Mei : Peresmian Perkampungan Pendeta Pensiun dan Kantor Departemen Diakonia Sosial di Pematangsiantar.
- Ditetapkan Aturan Peraturan (ADT & ART) yang baru
- 30 Desember: Berdiri Distrik Tanah Alas

1974
- Universitas Wittenberg menganugerahkan gelar “Doktor Hanoris Causa” keda Pdt. T.S. Sihombing.
- 31 Juli : Berdiri Distrik Asahan Labuhan Batu
- Pdt. G.H.M. Siahaan dipilih menjadi Ephorus HKBP dan Pdt. Dr. F.H. Sianipar menjadi Sekretaris Jenderal.
- 2-3 Nopember : Jubileum 75 tahun Zending HKBP.

1976
- 27 Januari: Peresmian Pendidikan Diakones HKBP di Balige
- 2 Agustus: HKBP memandirikan HKBP Angkola.

1978
- 23-27 Januari: Sinode Godang Istimewa di Simanare Sipoholon
- Fakultas Theologia Universitas HKBP diputuskan menjadi Sekolah Tinggi Teologia (STT) HKBP.
- Pdt. P.M. Sihombing, MTh terpilih menjadi Sekretaris Jenderal HKBP

1979 24 Juni: Peresmian Distrik Simarkata Pakpak

1980
- 11 Juni: Kursus Ketrampilan Pria berdiri di Parparean Porsea
- 11 Agustus: Kursus Ketrampilan Wanita berdiri di Doloksanggul

1983
- 24 Februari: Persemian Distrik Tebing Tinggi Deli
- 28 Agustus: Penahbisan Diakones Pertama di HKBP Balige

1985 Februari: Peresmian Distrik Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel)

1986
- 27 Januari: Peresmian Auditorium HKBP di Seminarium Sipoholon
- 27 Juli: Penahbisan Pertama Pendeta Wanita di HKBP, Pdt. Norce P Lumbantoruan, STh
- 14 Agustus: Peresmian Kantor Induk HKBP di Pearaja Tarutung

1987
- 27-31 Juni: Sinode Godang ke 48
- Pdt. Dr. S.A.E. Nababan, LLD. dipilih menjadi Ephorus HKBP dan Pdt. O.P.T. Simorangkir, SmTh. menjadi Sekretaris Jenderal.

1988
- 23 Mei: Berdiri Distrik Humbang Habinsaran
- 10-15 Nopember: Sinode Godang Ke 49 menetapkan Garis-garis Besar Kebijaksanaan Pembinaan dan Pengembangan (GBKPP) HKBP

1990
- 20 – 9 Juli: Perkemahan Kerja Pemuda HKBP di Sipirok
- 10 – 15 Juli: Konferensi Pemuda di Sipirok
- 18 – 21 Juni: Konsultasi Teologia di Parapat

1991 9 – 12 April: Sinode Godang Ke 50

1992 23 – 28 Nopember: Sinode Godang Ke 51. Ada 3 agenda di Sinode Godang ini, yaitu; Penyelesaian Kemelut HKBP, Periode Fungsionaris dan menetapkan Aturan Peraturan (AD dan ART) HKBP untuk tahun 1992 s/d 2002. Sinode berhasil memutuskan: Tim Penyelesaian Kemelut dan Aturan HKBP 1992 – 2002 (AD) tanpa Peraturan (ART). Pemilihan Fungsionaris HKBP tidak terlaksana, terjadi keributan dan perpecahan di tubuh HKBP hingga tahun 1998.

1993 11 – 13 Februari: Sinode Godang Istimewa di Medan melalui undangan Pejabat Ephorus. Di Sinode ini terpilih Pdt. Dr. P.W.T. Simanjuntak sebagai Ephorus dan Pdt. Dr. S.M. Siahaan sebagai Sekretaris Jenderal.

1994
- 29 September – 1 Oktober: Sinode Godang ke 52 menetapkan Aturan Peraturan (AD & ART) tahun 1994 – 2004.
- 23 Oktober: Peresmian HKBP Distrik Indonesia Bagaian Timur (IBT)

1995
- 16 – 17 Juni: Sinode Godang Penyatuan HKBP Simarkata Pakpak Otonom dan GKPPD
- 6 agustus: HKBP memandirikan Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi (GKPPD)
- 24 September: Peresmian HKBP Distrik Jawa Barat, Jawa Tengah dan Yogyakarta (Jabartendy)

1996
- 17 – 22 Nopember: Sinode Godang ke 53 membicarakan Konfesi HKBP

1998
- 26 Oktober – 1 Nopember: Sinode Godang ke 54 di Pematang Siantar / Balige.
- Pdt. Dr. J.R. Hutauruk terpilih sebagai Pejabat Ephorus dengan tugas menyelenggarakan rekonsiliasi selambat-lambatnya enam bulan.
- 17 Nopember: Pernyataan bersama yang ditanda tangani Ephorus Pdt. D. Dr. S.A.E. Nababan, LLD dan Pejabat Ephorus Pdt. Dr. J.R. Hutauruk di Gereja HKBP Sudirman Medan, menentukan rekonsiliasi melalui Sinode Godang Rekonsiliasi tanggal 18 – 20 Desember.
- 18 – 20 Desember: Sinode Godang HKBP di Kompleks FKIP Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar. Pdt. Dr. J.R. Hutauruk terpeilih sebagai Ephorus dan Pdt. W.T.P. Simarmata, MA terpilih sebagai Sekretaris Jenderal

2000
- 26 Juli: Konfrensi Nasional HKBP di Convention Center Jakarta
- 21 – 24 Nopember: Sinode Godang di Seminarium Sipoholon nemetapkan ” Kebijakan Dasar Pendidikan HKBP” (KDP-HKBP)

2002
- 30 September – 1 Oktober: Sinode Godang di Seminarium Sipoholon menetapkan Aturan Peratutan (AD&ART) yang baru, berlaku 1 Januari 2004, dan Distrik : Jakarta 2, Kepulauan Riau, Jakarta 3, Riau, Langkat, Wilayah Tanah Jawa, Jambi.;

Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu.
Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah …
(Yohanes 15 ; 16a)

October 15, 2003 by · No Comments · Uncategorized

Politeknik Informatika Del

      Politeknik Informatika Del berlokasi di Sitoluama, Laguboti, Toba Samosir, Sumatera Utara. Letaknya persis di pinggir danau Toba. Berjarak kira-kira 200 s/d 250 KM dari Medan, 10 KM dari Balige.
      Pemilihan tempat yang “remote area” bertujuan agar proses pendidikan benar-benar terfocus dan tidak terpengaruh oleh kegiatan atau aktifitas luar/ perkotaan pada umumnya. Sementara untuk akses informasi dari luar dapat dilakukan dengan Internet dan TV Satelit (Kabel). Pemilihan lokasi di pinggir danau Toba agar suasana iklim mendukung proses pendidikan yang lebih baik. Dengan demikian juga, arsitektur dari setiap bangunan diusahakan ergonomis sehingga menumbuhkan suasana betah untuk berada di kampus.

Alamat Lengkap Politeknik Informatika Del:
Politeknik Informatika Del
Jl. Sisingamangaraja, Sitoluama
Laguboti, Kab. Tobasa
SUMUT, Indonesia
KODE POS: 22381
Telp:
62 632 331234
62 632 331345
62 632 331375
62 21 5455477 (VoIP)
62 21 5455478 (VoIP)
Fax:
62 632 331116

email : [email protected]

October 14, 2003 by · No Comments · Uncategorized

Tutur Si Waluh

  1. Puang Kalimbubu
    Puang kalimbubu adalah kelompok kalimbubu dari kelompok pemberi dara
  2. Kalimbubu
    Kalimbubu adalah kelompok pemberi dara
  3. Senina/ Sukut
    Senina adalah orang-orang yang bermarga sama tetapi berlainan lineage dan merupakan kelompok yang empunya pesta/upacara
  4. Sembuyak
    Sembuyak adalah orang-orang yang bermarga sama dan satu lineage
  5. Senina Sipemeren
    Senina sipemeren adalah orang-orang yang walaupun tidak semarga, tetapi ibu kandung mereka bersaudara/semarga.
  6. Senina Siparibenen
    Senina siparibanen adalah orang-orang yang walaupun tidak semarga, tetapi istri mereka bersaudara.
  7. Anakberu
    Anakberu adalah kelompok penerima dara
  8. Anakberu Menteri
    Anakberu menteri adalah anakberu dari kelompok penerima dara atau anakberu dari anakberu.

October 14, 2003 by · No Comments · Uncategorized

Turi-Turin Beru Ginting Sope Mbelin

      Di daerah Urung Galuh Simale ada sepasang suami istri, yaitu Ginting Mergana dan Beru Sembiring. Mereka hidup bertani dan dalam kesusahan. Anak mereka hanya seorang, anak wanita, yang bernama Beru Ginting Sope Mbelin.
      Untuk memperbaiki kehidupan keluarga maka Ginting Mergana mendirikan perjudian yaitu “judi rampah” dan dia mengutip cukai dari para penjudi untuk mendapatkan uang. Lama kelamaan upayanya ini memang berhasil.
      Keberhasilan Ginting Mergana ini menimbulkan cemburu adik kandungnya sendiri. Adik kandungnya ini justru meracuni Ginting Mergana sehingga sakit keras. Akhirnya meninggal dunia. Melaratlah hidup Beru Ginting Sope Mbelin bersama Beru Sembiring.
      Empat hari setelah kematian Ginting Mergana, menyusul pula beru Sembiring meninggal. Maka jadilah Beru Ginting sope Mbelin benar-benar anak yatim piatu, tiada berayah tiada beribu.
      Beru Ginting Sope Mbelin pun tinggal dan hidup bersama pakcik dan makciknya. Anak ini diperlakukan dengan sangat kejam, selalu dicaci-maki walaupun sebenarnya pekerjaannya semua berres. Pakciknya berupaya memperoleh semua harta pusaka ayah Beru Ginting Sope Mbelin, tetapi ternyata tidak berhasil. Segala siasat dan tipu muslihat pakciknya bersama konco-konconya dapat ditangkis oleh Beru Ginting Sope Mbelin.
      Ada-ada saja upaya dibuat oleh makcik dan pakciknya untuk mencari kesalahan Beru Ginting Sope Mbelin, bisalnya menumbuk padi yang berbakul-bakul, mengambil kayu api berikat-ikat dengan parang yang majal, dll. Walau Beru Ginting Sope Mbelin dapat mengerjakannya dengan baik dan cepat – karena selalu dibantu oleh temannya Beru Sembiring Pandan toh dia tetap saja kena marah dan caci-maki oleh makcik dan pakciknya.
      Untuk mengambil hati makcik dan pakciknya, maka Beru Ginting Sope Mbelin membentuk “aron” atau “kerabat kerja tani gotong royong” yang beranggotakan empat orang, yaitu Beru Ginting Sope Mbelin, Beru Sembiring Pandan, Tarigan Mergana dan Karo Mergana.
      Niat jahat makcik dan pakciknya tidak padam-padamnya. Pakciknya menyuruh pamannya untuk menjual Beru Ginting Sope Mbelin ke tempat lain di luar tanah Urung Galuh Simale. Pamannya membawanya berjalan jauh untuk dijual kepada orang yang mau membelinya.
      Di tengah jalan Beru Ginting Sope Mbelin bertemu dengan Sibayak Kuala dan Sibayak Perbesi. Kedua Sibayak ini memberi kain kepada Beru Ginting Sope Mbelin sebagai tanda mata dan berdoa agar selamat di perjalanan dan dapat bertemu lagi kelak.
      Kemudian sampailah Beru Ginting Sope Mbelin bersama pamannya di Tanah Alas di kampung Kejurun Batu Mbulan dan diterima serta diperlakukan dengan baik oleh Tengku Kejurun Batu Mbulan secara adat.
      Selanjutnya sampailah Beru Ginting Sope Mbelin bersama pamannya di tepi pantai. Di pelabuhan itu sedang berlabuh sebuah kapal dari negeri jauh. Nakhoda kapal itu sudah setuju membeli Beru Ginting Sope Mbelin dengan harga 250 uang logam perak. Beru Ginting Sope Mbelin disuruh naik ke kapal untuk dibawa berlayar. Mesin kapal dihidupkan tetapi tidak jalan. Berulang kali begitu. Kalau Beru Ginting Sope Mbelin turun dari kapal, kapal itu dapat berjalan, tetapi kalau dia naik, kapal tidak dapat berjalan. Nakhoda akhirnya tidak jadi membeli Beru Ginting Sope Mbelin dan uang yang 250 perak itu pun tidak dimintanya kembali.
      Perjalanan pun dilanjutkan. Ditengah jalan, paman Beru Ginting Sope Mbelin pun melarikan diri pulang kembali ke kampung. Dia mengatakan bahwa Beru Ginting Sope Mbelin telah dijual dengan harga 250 perak serta menyerahkan uang itu kepada pakciknya Beru Ginting. Pakciknya percaya bahwa Beru Ginting telah terjual.
      Beru Ginting Sope Mbelin meneruskan perjalanan seorang diri tidak tahu arah tujuan entah ke mana, naik gunung turun lembah. Pada suatu ketika dia bertemu dengan seekor induk harimau yang sedang mengajar anaknya. Anehnya harimau tidak mau memakan Beru Ginting Sope Mbelin, bahkan menolongnya menunjukkan jalan yang harus ditempuh.
      Beru Ginting Sope Mbelin dalam petualangannya sampai pada sebuah gua yang dalam. Penghuni gua – yang bernama Nenek Uban – pun keluar menjumpainya. Nenek Uban ini pun tidak mau memakan Beru Ginting Sope Mbelin bahkan membantunya pula. Nenek tua ini mengetahui riwayat hidup keluarga dan pribadi Beru Ginting Sope Mbelin ini.
      Atas petunjuk Nenek Uban ini maka secara agak gaib Beru Ginting Sope Mbelin pun sampailah di tempat nenek Datuk Rubia Gande, yaitu seorang dukun besar atau “guru mbelin”. Sesampainya di sana, keluarlah nenek Datuk Rubia Gande serta berkata: “Mari cucu, mari, jangan menangis, jangan takut” dan Beru Ginting Sope Mbelin pun menceritakan segala riwayat hidupnya.
      Beru Ginting Sope Mbelin pun menjadi anak asuh nenek Datuk Rubia Gande. Beru Ginting pun sudah remaja dan rupa pun sungguh cantik pula. Konon kabarnya sudah ada jejaka yang ingin mempersuntingnya. Tetapi Beru Ginting Sope Mbelin tidak berani mengeluarkan isi hatinya karena yang memeliharanya adalah nenek Datuk Rubia Gande. Oleh karena itu kepada setiap jejaka yang datang dia berkata : “tanya saja pada nenek saya itu”. Dan neneknya pun berkata kepada setiap orang: “tanya saja pada cucu saya itu!”. Karena jawaban yang seperti itu jadinya orang bingung dan tak mau lagi datang melamar.
      Ternyata antara Beru Ginting Sope Mbelin dan nenek Datuk Gande terdapar rasa saling menghargai. Inilah sebabnya masing-masing memberi jawaban pada orang yang datang “tanya saja pada dia!” Akhirnya terdapat kata sepakat, bahwa Beru Ginting mau dikawinkan asal dengan pemuda/pria yang sependeritaan dengan dia. Neneknya pun setuju dengan hal itu.
      Akhirnya, nenek Datuk Rubia Gande pun dapat memenuhi permintaan cucunya, dengan mempertemukan Beru Ginting Sope Mbelin dengan Karo Mergana penghulu Kacaribu, berkat bantuan burung Danggur Dawa-Dawa. Dan kedua insan ini pun dikawinkanlah oleh nenek Datuk Rubia Gande menjadi suami-istri.
      Setelah beberapa hari, bermohonlah Karo Mergana kepada nenek Datuk Rubia Gande agar mereka diizinkan pulang ke tanah kelahiran Beru Ginting Sope Mbelin, karena begitulah keinginan cucunya Beru Ginting itu. Nenek Datuk Rubia Gande menyetujui usul itu serta merestui keberangkatan mereka.
      Berangkatlah Beru Ginting Sope Mbelin dengan suaminya Karo Mergana memulai perjalanan. Mereka berjalan beberapa lama mengikuti rute perjalanan Beru Ginting Sope Mbelin dulu waktu meninggalkan tanah urung Galuh Simale. Mereka singgah di kampung Kejurun Batu Mbulan, di pelabuhan di tepi pantai tempat berlabuh kapal nakhoda dulu, melalui simpang Perbesi dan Kuala bahkan berhenti sejenak di situ.
      Sampailah mereka di antara Perbesi dan Kuala. Anehnya, di sana mereka pun berjumpa pula dengan Sibayak Kuala dan Sibayak Perbesi. Kedua Sibayak ini sangat bergembira karena dulu mereka pernah memberi kain masing-masing sehelai kepada Beru Ginting Sope Mbelin yang sangat menderita berhati sedih pada waktu itu, dan kini mereka dapat pula bertemu dengan Beru Ginting Sope Mbelin bersama suaminya Karo Mergana.
      Jadinya, Beru Ginting Sope Mbelin bersama suaminya Karo Mergana, bermalam pula beberapa lama di Kuala dan Perbesi atas undangan kedua sibayak tersebut. Dan disediakan pula pengiring yang mengantarkan Beru Ginting Sope Mbelin bersama Karo Mergana ke tanah Urung Galuh Simale. Semuanya telah diatur dengan baik: perangkat gendang yang lengkap, makanan yang cukup bahkan banyak sekali. Pendeknya, Beru Ginting Sope Mbelin bersama suaminya diantar dengan upacara yang meriah atas anjuran dan prakarsa Sibayak Kuala dan Sibayak Perbesi yang bijaksana dan baik hati.
      Ternyata pakcik Beru Ginting Sope Mbelin dulu – yang juga seorang dukun – mempunyai firasat yang kurang baik terhdapa dirinya. Oleh karena itu pada saat tibanya Beru Ginting Sope Mbelin di kampungnya, pakciknya itu sekeluarga menyembunyikan diri di atas para-para rumah. Akan tetapi akhrinya diketahui juga oleh Beru Ginting Sope Mbelin.
      Pakcik dan makcik Beru Ginting Sope Mbelin dibawa turun ke halaman untuk dijamu makan dan diberi pakaian baru oleh Beru Ginting Sope Mbelin. Pakcik dan makciknya itu sangat malu dan tidak mengira bahwa Beru Ginting Sope Mbelin akan pulang kembali ke kampung apalagi bersama suaminya pula yaitu Karo Mergana.
      Berbagai bunyi-bunyian pun dimainkan, terutama sekali “gendang tradisional” Karo serta diiringi dengan tarian, antara lain:
a. gendang si ngarak-ngaraki;
b. gendang perang si perangen;
c. gendan perang musuh;
d. gendang mulih-mulih;
e. gendang ujung perang;
f. gendang rakut;
g. gendang jumpa malem;
h. gendang morah-morah;
i. gendang tungo-tungko.
      Dan sebagai hukuman atas kekejaman dan kebusukan hati pakcik dan makciknya itu maka tubuh mereka ditanam sampai bahu masing-masing di beranda barat dan beranda timur, hanya kepalanya saja yang nampak. Kepala mereka itulah yang merupakan anak tangga yang harus diinjak kalau orang mau masuk dan keluar rumah adat. Itulah hukuman bagi orang yang tidak berperikemanusiaan yang berhati jahat terhadap saudara dan kakak serta anaknya sendiri.

October 14, 2003 by · No Comments · Uncategorized

Rakut Si Telu

Kalimbubu
Mehamat Erkalimbubu

      Kalimbubu ibas kalak Karo emekap si harus ihamati ras ikelengi. Adi kalak karo si dekah erdalan itengah kerangen ras kalimbubu la banci lang anak beru arah lebe, ertina adi lit musuh entah pe rubia-rubia si merawa entah pe duri entahpe bulung si megatel gelah anak beru kena leben, gelah selamat kalimbubu ibas bahaya nari. Bagepe adi erdalan pagi-pagi namuren denga dalan, anak beru nge arah lebe, gelah enggo keri namur e isapu anak beru segelah kalimbubu lanai namuren. Adi ngerana kalimbubu ibas sada runggun labo banci ia isimbaki. “Bagi page ibas lebeng pe ikurkuri gelah lit man nakan turang” Bagem kuan-kuan kalak Karo ncidahken kekelengen anak beru nandangi kalimbubu.
      Kalimbubu adalah kelompok pemberi dara dalam Masyarakat Karo, kalimbubu ini ada beberapa jenis, yaitu:

  1. kalimbubu tua/ kalimbubu bena-bena;
  2. kalimbubu simupus/kalimbubu dareh;
  3. kalimbubu kampah;
  4. kalimbubu simajek dalikan;
  5. kalimbubu siperdemui;
  6. kalimbubu sembuyak;
  7. kalimbubu taneh/kalimbubu sinajek lulang;
  8. puang kalimbubu (kalimbubu dari kalimbubu);
  9. puang ni puang (kalimbubu dari puang kalimbubu).

Senina
Metenget Ersenina

      Senina eme si rusur teman runggu. Adi kalak Karo si dekah Senina Sada Utang Sada Ido nina. Utang seninanta banci nge itunggu kalak man banta, bagepe ido seninanta tek ka nge kalak kita ngalokenca. Metenget ersenina perlu kal ijaga gelah ula sempat retak, rubat. Teman meriah enterem nge, tapi teman tangis senina e ka ngenca. Emaka rugi kal adi kita rubat ersenina, dalan sirang labo lit, emaka arus metenget gelah ula sempat rubat, nggit sitewasen, ula subuki anem la pe iakap teng-tengsa. Ulin min si ban man seninanta asa man ise pe sebab e nge teman ngandung ras ermeriah ukur. Adi lit si la tabehen ukur ras seninanta si pala-palailah pekenasa.
      Senina adalah kelompok yang semarga dalam Masyarakat Karo, senina ini ada beberapa jenis, yaitu:

  1. sembuyak;
  2. senina siparibanen;
  3. senina sipemeren;
  4. senina sipengalon;
  5. senina sicimbangen.

Anakberu
Metami Man Anak Beru

      Kuan kuan kalak Karo “Mangkuk reh, mangkuk lawes”, mbages kel ertina. Adi anak beru enggo erbahan si mehuli nandangi kalimbubu maka kalimbubu pe arus erbahan si mehuli man anak beru, amin gia lain-lain bentukna. Kalimbubu la banci la erpengagak nandangi anak beruna, bas kai murde la banci lang arus isampatina. Bage nge ertina jadi dibata ni idah, ngidah kerina situasi. Bagepe anak beruna la pe isuruh kalimbubuna, enggo leben ikalakina juma kalimbubuna. Bere-berenta man beren kin. Erpengagak kin jadi kalimbubu, la ipondona si bereken gelah puas kal ukurna. Gundari bere-bere pe lanai bo tersuruh, adi kita la si cidahken kekelengenta man bana. Ula min bagi si gundari, erjabu beberena luah si ngalo bere-bere pe palsu, labo mamana e sinukursa tapi siempo nge. Emaka akapna mamana pe mama palsu nge. Aturenna ije me i cidahken ate keleng erbere-bere, alu luah mamana, keleng kel atena barang e. Tole, ula kal si diberu i cekurakina entah pe irawaina turangkuna. Bage pe si dilaki, ula kal i rawaina ntah ipandangina turangkuna tah silihna. Adi la si akap teng-teng silihta, banci sidilo turangta, turangta e banci siajarken entah sirawai. Maka iban kerja Tahun pe gelah setahun sekalilah gia sidahi-dahin. Kalimbubu ndahi anak beruna ras anak-anak kerina gelah itandaina bengkilana ras impalna, bagepe anak beru nandangi kalimbubu. Kai kin ateta luahta maka meriah ukur silihta ras beberenta e lah si baba, bageka anak beru nanadangi kalimbubu ras permenna.
      Anakberu adalah kelompok penerima dara dalam Masyarakat Karo, anakberu ini ada beberapa jenis, yaitu:

  1. anakberu ipupus/anakberu dareh;
  2. anakberu iangkip;
  3. anakberu sincekuh baka tutup;
  4. anakberu tua;
  5. anakberu singerana, sirunggu (singerakut bide);
  6. anakberu menteri;
  7. anakberu singikuri;
  8. anakberu singikuti.

October 14, 2003 by · No Comments · Uncategorized

Silsilah Si Raja Batak.

      Konon di atas langit (banua ginjang, nagori atas) adalah seekor ayam bernama Manuk Manuk Hulambujati (MMH) berbadan sebesar kupu-kupu besar, namun telurnya sebesar periuk tanah. MMH tidak mengerti bagaimana dia mengerami 3 butir telurnya yang demikian besar, sehingga ia bertanya kepada Mulajadi Na Bolon (Maha Pencipta) bagaimana caranya agar ketiga telur tsb menetas.
      Mulajadi Na Bolon berkata, “Eramilah seperti biasa, telur itu akan menetas!” Dan ketika menetas, MMH sangat terkejut karena ia tidak mengenal ketiga makhluk yang keluar dari telur tsb. Kembali ia bertanya kepada Mulajadi Nabolon dan atas perintah Mulajadi Na Bolon, MMH memberi nama ketiga makhluk (manusia) tsb:

  1. Yang pertama lahir diberi nama TUAN BATARA GURU
  2. Yang kedua OMPU TUAN SORIPADA
  3. Yang ketiga OMPU TUAN MANGALABULAN

Ketiganya adalah lelaki.
      Setelah ketiga putranya dewasa, ia merasa bahwa mereka memerlukan seorang pendamping wanita. MMH kembali memohon dan Mulajadi Na Bolon mengirimkan 3 wanita cantik:

  1. SIBORU PAREME untuk istri Tuan Batara Guru, yang melahirkan 2 anak laki laki diberi nama TUAN SORI MUHAMMAD, dan DATU TANTAN DEBATA GURU MULIA dan 2 anak perempuan kembar bernama SIBORU SORBAJATI dan SIBORU DEAK PARUJAR.
  2. Anak kedua MMH, Tuan Soripada diberi istri bernama SIBORU PAROROT yang melahirkan anak laki-laki bernama TUAN SORIMANGARAJA
  3. Anak ketiga, Ompu Tuan Mangalabulan, diberi istri bernama SIBORU PANUTURI yang melahirkan TUAN DIPAMPAT TINGGI SABULAN.

      Dari pasangan Ompu Tuan Soripada-Siboru Parorot, lahir anak ke-5 namun karena wujudnya seperti kadal, Ompu Tuan Soripada menghadap Mulajadi Na Bolon (Maha Pencipta). “Tidak apa apa, berilah nama SIRAJA ENDA ENDA,” kata Mulajadi Na Bolon. Setelah anak-anak mereka dewasa, Ompu Tuan Soripada mendatangi abangnya, Tuan Batara Guru menanyakan bagaimana agar anak-anak mereka dikawinkan.
“Kawin dengan siapa? Anak perempuan saya mau dikawinkan kepada laki-laki mana?” tanya Tuan Batara Guru.
“Bagaimana kalau putri abang SIBORU SORBAJATI dikawinkan dengan anak saya Siraja Enda Enda. Mas kawin apapu akan kami penuhi, tetapi syaratnya putri abang yang mendatangi putra saya,” kata Tuan Soripada agak kuatir, karena putranya berwujud kadal.
      Akhirnya mereka sepakat. Pada waktu yang ditentukan Siboru Sorbajati mendatangai rumah Siraja Enda Enda dan sebelum masuk, dari luar ia bertanya apakah benar mereka dijodohkan. Siraja Enda Enda mengatakan benar, dan ia sangat gembira atas kedatangan calon istrinya. Dipersilakannya Siboru Sorbajati naik ke rumah. Namun betapa terperanjatnya Siboru Sorbajati karena lelaki calon suaminya itu ternyata berwujud kadal. Dengan perasaan kecewa ia pulang mengadu kepada abangnya Datu Tantan Debata.
“Lebih baik saya mati daripada kawin dengan kadal,” katanya terisak-isak.
“Jangan begitu adikku,” kata Datu Tantan Debata. “Kami semua telah menyetujui bahwa itulah calon suamimu. Mas kawin yang sudah diterima ayah akan kita kembalikan 2 kali lipat jika kau menolak jadi istri Siraja Enda Enda.”
      Siboru Sorbajati tetap menolak. Namun karena terus-menerus dibujuk, akhirnya hatinya luluh tetapi kepada ayahnya ia minta agar menggelar “gondang” karena ia ingin “manortor” (menari) semalam suntuk.
Permintaan itu dipenuhi Tuan Batara Guru. Maka sepanjang malam, Siboru Sorbajati manortor di hadapan keluarganya. Menjelang matahari terbit, tiba-tiba tariannya (tortor) mulai aneh, tiba-tiba ia melompat ke “para-para” dan dari sana ia melompat ke “bonggor” kemudian ke halaman dan yang mengejutkan tubuhnya mendadak tertancap ke dalam tanah dan hilang terkubur!
      Keluarga Ompu Tuan Soripada amat terkejut mendengar calon menantunya hilang terkubur dan menuntut agar Keluarga Tuan Batara Guru memberikan putri ke-2 nya, Siboru Deak Parujar untuk Siraja Enda Enda.
   Sama seperti Siboru Sorbajati, ia menolak keras. “Sorry ya, apa lagi saya,” katanya. Namun karena didesak terus, ia akhirnya mengalah tetapi syaratnya orang tuanya harus menggelar “gondang” semalam suntuk karena ia ingin “manortor” juga. Sama dengan kakaknya, menjelang matahari terbit tortornya mulai aneh dan mendadak ia melompat ke halaman dan menghilang ke arah laut di benua tengah (Banua Tonga). Di tengah laut ia digigit lumba-lumba dan binatang laut lainnya dan ketika burung layang-layang lewat, ia minta bantuan diberikan tanah untuk tempat berpijak. Sayangnya, tanah yang dibawa burung layang-layang hancur karena digoncang NAGA PADOHA. Siboru Deak Parujar menemui Naga Padoha agar tidak menggoncang Banua Tonga.

“OK,” katanya. “Sebenarnya aku tidak sengaja, kakiku rematik. Tolonglah sembuhkan.”

      Siboru Deak Parujar berhasil menyembuhkan dan kepada Mulajadi Na Bolon dia meminta alat pemasung untuk memasung Naga Padoha agar tidak mengganggu. Naga Padoha berhasil dipasung hingga ditimbun dengan tanah dan terbenam ke benua tengah (Banua Toru). Bila terjadi gempa, itu pertanda Naga Padoha sedang meronta di bawah sana.
      Alkisah, Mulajadi Na Bolon menyuruh Siboru Deak Parujar kembali ke Benua Atas. Karena lebih senang tinggal di Banua Tonga (bumi), Mulajadi Na Bolon mengutus RAJA ODAP ODAP untuk menjadi suaminya dan mereka tinggal di SIANJUR MULA MULA di kaki gunung Pusuk Buhit. Dari perkawinan mereka lahir 2 anak kembar :

  1. RAJA IHAT MANISIA (laki-laki).
  2. BORU ITAM MANISIA (perempuan).

Tidak dijelaskan Raja Ihat Manisia kawin dengan siapa, ia mempunyai 3 anak laki laki:

  1. RAJA MIOK MIOK.
  2. PATUNDAL NA BEGU
  3. AJI LAPAS LAPAS

      Raja Miok Miok tinggal di Sianjur Mula Mula, karena 2 saudaranya pergi merantau karena mereka berselisih paham. Raja Miok Miok mempunyai anak laki-laki bernama ENGBANUA, dan 3 cucu dari Engbanua yaitu:

  1. RAJA UJUNG.
  2. RAJA BONANG BONANG.
  3. RAJA JAU.

Konon Raja Ujung menjadi leluhur orang Aceh dan Raja Jau menjadi leluhur orang Nias. Sedangkan Raja Bonang Bonang (anak ke-2) memiliki anak bernama RAJA TANTAN DEBATA, dan anak dari Tantan Debata inilah disebut SI RAJA BATAK, YANG MENJADI LELUHUR ORANG BATAK DAN BERDIAM DI SIANJUR MULA MULA DI KAKI GUNUNG PUSUK BUHIT!

October 14, 2003 by · No Comments · Uncategorized

Sejarah berdirinya GKPS

Pendahuluan

      Adapun Simalungun adalah suku Batak dari kelima Batak yang ada di Sumatera Utara . Simalungun artinya “sunyi” nama itu di berikan oleh orang luar karena penduduknya sangat jarang dan tempatnya sangat berjauhan antara yang satu dengan yang lain. Orang Batak Toba menyebutnya “BALUNGU” sedangkan orang Karo menyebutnya Batak Timur karena bertempat di sebelah Timur mereka.

      Penduduk Simalungun bagian Timur pada umumnya sudah banyak menganut agama Islam sedangkan Simalungun Barat menganut Animesme. Bila di selidiki lebih dalam kepercayaan mereka dengan pemakaian mantera-mantera yang dari “Datu” yang untuk di persembahkan kepada roh-roh nenek moyang selalu di dahului panggilan kepada Allah diatas, Allah ditengah, Allah dibawah. Sistem pemerintahan di Simalungun di pimpin oleh seorang Raja, sebelum pemberitaan injil masuk Tuan Rajalah yang sangat berpengaruh. Orang Simalungun menganggap bahwa anak Raja itulah Tuhan dan Raja itu sendiri adalah Allah yang kelihatan.

      Sistem mata pencaharian orang Simalungun yaitu bercocok tanam dengan jagung, karena padi adalah makanan pokok sehari-hari dan jagung adalah makanan tambahan jika hasil padi tidak mencukupi. Jual- beli di adakan dengan barter, bahasa yang di pakai adalah bahasa dialek (sendir). “Marga” memegang peranan penting dalam soal adat Simalungun. Jika di bandingkan dengan keadaan Simalungun dengan Batak yang lainnya sudah jauh berbeda, di Tapanuli sudah berdiri sekolah-sekolah, Rumah sakit, dan sekolah-sekolah keterampilan lainnya sehingga sistem kehidupan Tapanuli lebih maju.

Masuknya Injil dan Berdirinya GKPS

      September 1903 masuknya injil Tuhan Yesus Kristus di Simalungun dan Pendeta yang membawanya ke Simalungun adalah Pendeta.DR. L . Nomensen sebagai kepala pemberita injil di tanah Batak.

      Januari 1904 di mulialah Zending Simalungun yang bertempat tinggal di Pematang Raya dan Pdt. Guilllaume berada di Purba saribu untuk melayani pemberitaan injil di Simalungun Raya di bagian Barat. Sebagai hasil pertama dari pemberitaan injil di Simalungun baru pada tahun 1909 di Pematang Raya menerima permandian suci (Pandidion na parlobei) oleh Pdt. Theis kemudian di Parapat juga ada 38 orang yang menerima permandian suci.

      1 September 1928 di adakan di Pematangan Raya pesta peringatan genap 25 tahun pemberitaan injil di Simalungun, dan atas kesepakatan dari beberapa Guru dan Sintua maka di bentuklah sebuak komite. Komite ini bertugas untuk membuat agenda Gereja, buku nyanyian “HALLELUYA”, Bibel dan sebuah buku renungan harian “Manna”. Pdt yang pertama dari Simalungun yaitu Pdt. J. Wismar Saragih.

      15 November di bentuklah kongsi Laita di Sondiraya. Laita artinya ayo kita pergi. Kongsi ini merupakan suatu badan yang di gerakkan anggota jemaat Pematang Raya yanng bertujuan untuk mengajak umat Kristen untuk memberitakan injil dan menyaksikan nama Tuhan Yesus Kristus pada orang Simalungun dan tahun1938 di adakan Fonds saksi Kristus.

Simalungun menjadi 1 Distrik di Dalam HKBP

      26 September 1940 maka jemaat Simalungun berkembang menjadi satu Distrik di dalam HKBP.

Distrik Simalungun HKBP Simalungun

      5 Oktober 1952 anggota Synode Distrik Simalungun bersidang agar Simalungun berdiri sendiri terpisah dari HKBP, serta mengangkat pengurus harian dan majelis Gereja di HKBPS.

      30 November 1952, untuk memudahkan urusan Gereja ini HKBPS di bagi menjadi tiga Distrik dan Kantor pusat GKPS didirikan di Pematang Siantar. Kantor pusat bermula menumpang dalam satu rumah sewa di Jalan Pantuan Nagari Martoba Pematang Siantar dan setelah mendapat sebidang tanah di Jalan Sudirman maka Kantor pusat HKBPS berdiri sendiri.

HKBP Simalungun menjadi GKPS

      1 September 1963 HKBP Simalungun berganti nama dengan GKPS. Setahun setelah itu didirikan pusat pendidikan GKPS di Pematang Raya dan pembangunan Asrama Putra dan Putri dan tahun itu juga GKPS menjadi anggota PGI.

GKPS Menjalin Kerjasama Luar Negeri

      15 Januari 1964 GKPS mendirikan pusat pelatihan pertanian di Pematanng Siantar (PELPEM GKPS) dan satu tahun kemudian GKPS menjadi anggota wilayah PGI-WILAYAH SUMUT dan anggota LWF, ELCA, dan menjalin kerja sama dengan DGD, LCA (Australia) dan berkembang CCA. Karena semakin berkembangnya jemaat GKPS didirikanlah Kantor pusat/kursus Zentrum GKPS dan mulai menjalin kerja sama dengan Gereja Mulheim Jerman.

Penutup

      Behubungan dengan lokasi Kantor pusat GKPS yang ada di Jalan Sudirman sangat sempit dan suasana Kantor tersebut yang berketepatan dekat dengan Jalan raya sehingga para pegawai sulit dalam mengkonsetrasikan pekerjaannya. Atas pertimbangan hal tersebut di atas maka tanggal 4 September 1988 di dirikanlah penngembangan Kantor pusat GKPS Pematang Siantar, dan pada tanggal 2 Maret 1992 Kantor pusat GKPS berpindah ke Jalan Pdt. J.Wismar Saragih hingga sekarang.

October 14, 2003 by · No Comments · Uncategorized

Sejarah Berdirinya GBKP

Latar Belakang Berdirinya GBKP

      Permulaan usaha perkabaran Injil ke daerah Karo bukan munculnya karena tugas rohani. Usaha itu dimulai oleh karena permohonan J.T. Craemers, seorang pemimipin perkebunan di Sumatera Timur. Beliau berpendapat bahwa jalan jalan yang paling baik supaya penduduk asli daerah itu jangan menentang dan mengganggu usaha -usaha perkebunan ialah dengan mengabarkan injil dan mengkristenkan mereka. Dengan meyakinkan Maskapai Perkebunan terhadap pendapatnya , Craemers meminta kepada Nederlandsch Zending Genootschap (NZG) untuk membuka penginjilan di daerah Sumatera Timur, dengan biaya yang dibebankan kepada maskapai-maskapai. Permintaan itu diterima oleh NJG dan dilaksanakan dari tahun 1890 sampai tahun 1930.

      Tanggal 18 April 1890, tibalah, Pekabar Injil utusan NZG yakni Pdt.H.C.Kruyt dari Tomohon (Minahasa) dan tempat pos yang pertama di Buluh Awar. Melihat medan pelayanan di kaki pegunungan sekitar Buluh Awar, sejak awal Pdt.H.C.Kruyt mengusulkan kepada Badan Zending agar dibuka pos missi ke daerah Karo Tinggi, tapi pemerintah kolonial belim memberikan ijin karena alasan yang “dibuat-buat” soal keamanan. Kruyt merasa kecewa terhadap alasan seperti ni. Tahun berikutnya dia menjemput 4 (empat) orang Guru Injil yaitu : B.Wenas, J.Pinontoan,R.Tampenawas dan H.Pesik, sebagai pembantunya.

      Dua tahun kemudian (1892) Pdt.H.C.Kruyt pulang ke negerinya tanpa membaptiskan seorangpun dari suku Karo , kemudian digantikan Pdt.J.K.Wijngaarden yang sebelumnya telah bekerja di Pulau Sawu dekat Pulau Timor. Pendeta inilah yang melakukan pembabptisan pertama suku Karo tanggal 20 agustus 1893 sebanyak 6 orang : Sampe, Ngurupi, Pengarapen, Nuah, Tala dan Tabar. Pendeta Wijngarden meninggal tanggal 21 September 1894 karena serangan disentri.

Wijgaarden digantikan oleh Pdt.Joustra; ia yang menterjemahkan 104 ceritera-ceritera Alkitab dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru ke dalam Bahasa Karo (104 turi-turian) dan dia juga tinggal di Buluh Awar.

Masa Penanaman dan Penggarapan : 1906 – 1940

      Dengan kedatangan Pdt.Guilloume (utusan RMG dari Jerman) dari saribudolok yang sebelumnya bekerja ke tapanuli (bd,HKBP : waktu itu Saribudolok masuk daerah pelayanan pra HKBP ) dan seorang guru injil Martin Siregar maka dibukalah pos PI yang kedua di Bukum, tahun 1899. Sampai tahun 1900, orang Karo yang sudah dibabtiskan baru sekitar 25 Orang. Pertumbuhan dalam kurun waktu 10 Tahun pertama sangat sulit bertumbuh. Kita dapat merasakan kigigihan suku Karo mempertahankan tradisi dan adat istiadatnya sehingga sehingga ia merasa aman dalam sikap hidup lama ditengah-tengah tahap kebudayaan yang bersifat magis, mistis dan animistis. Pada pihak lain kita juga merasakan kegigihan semangat penginjilan yang pantang mundur dalam memperkenalkan Injil Kristus yang sering salah dimengerti orang-orang Karo.

Masa Penanaman dan Penggarapan 1906-1940

      Kedatangan Pdt.J.H.neuman tahun 1900 membawa pengharapan baru dalam sejarah PI di Karo. Ia ditempatkan di pos baru (III) di Sibolangit. Ia menerjemahkan Alkitab kedalam Bahasa Karo. ia juga aktif dalam membuka pelayanan kesehatan, pertanian,perdagangan, dan pendidikan.

      Tahun 1903 datang pula Pdt.E.J.Van den Berg yang kemudian membuka pos baru (IV) menetap di KabanJahe. Keduanya merupakan teman sekerja yang baik, kemudian membuka Rumah Sakit Zending di Sibolangit dan di Kabanjahe. Kemudian dengan kerjasama dengan pihak pemerintah. Pdt.E.J.Van den berg membuka Rumah Sakit Kusta di Lau Simomo. J.H.Newmann aktif membuka pekan-pekan (sejenis pasar di desa-desa di daerah Deli Hulu.

GBKP Berdiri Sendiri Dalam Masa Penderitaan dan Kekacauan

      Tahun 1906 datang Pdt.G.Smith dan membuka Kweekschool di berastagi, kemudian dipindahkan, kemudian dipindahkan ke Raya. Tapi tahun 1920 sekeolah tersebut ditutup. Guru-guru sekolah yang telah terdidik ditempatkan di desa-desa menjadi guru sebagai landasan untuk mengabarkan Injil.

      Atas anjuran Prof.DR.H.Kraemer yang telah meninjau ke tempat-tempat/zending Karo tahun 1939 dan ia menekankan agar dalam waktu sesingkat-singkatnya Jemaat Karo dipersiapkan berdiri sendiri dengan pengiriman tenaga pribumi ke sekolah pendeta dan mengangkat majelis Jemaat yang sudah mampu untuk itu. Tahun 1940 dua guru Injil (P.Sitepu dan Th.Sibero) dikirim ke sekolah Pendeta di seminari HKBP , Sipoholon.

      Pada periode ini juga berkembang pergerakan muda-mudi ditengah-tengah Gereja dengan nama Christelijke Meisjes Club Maju (CMCM) untuk kaum perempuan dan Bond Kristen Dilaki Karo (BKDK) untuk kaum pria dikalangan pemuda Kristen Karo. Kedua pergerakan ini dapat dikatakan sebagai embryo lahirnya perkumpulan pemuda Gereja seluruh GBKP yang disebut PERMATA yang pengesahannya dan peresmiannya dilaksanakan pada sidang Sinode GBKP tanggal 12 Sept 1948 sebagai hari jadi PERMATA GBKP (Rapat Permata yang pertama tanggal 25 Mei 1947; kedua tanggal 18 juli 1948)

      Guru Injil Yang disekolahkan ke Seminari Sipoholon (Tarutung) telah menyelesaikan studinya pada pertengahan sidang Sinode Pertama yang menetapkan Nama Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) di Sibolangit tanggal 23 juli 1941 dan juga ditahbiskan dua orang Pendeta pertama dari putra Karo yaitu Pdt.Palem Sitepu dan Pdt.Thomas Sibero . Pada sinode pertama ini juga sudah ditetapkan Tata gereja GBKP yang pertama dan ketua Sinode ialah Pdt.J.Van Muylwijk; sebagai sekretaris : Guru Lucius Tambun (periode 1941-1943). Pdt. P.Sitepu ditempatkan di Tiga Nderket dan sebagai wakil ketua Klasis untuk daerah Karo Gugung (Dataran Tinggi) serta Pdt.Th.Sibero di Peria-ria, sebagai Wakil Ketua Klassis daerah Karo Jahe.

October 14, 2003 by · No Comments · Uncategorized

Dalihan Na Tolu II

      Salah satu contoh adat istiadat batak adalah “Dalihan Natolu”. “Dalihan Natolu” ini melambangkan sikap hidup orang batak dalam bermasyarakat. “Dalihan Natolu” yaitu:

  1. Marsomba tu Hula-Hula. “Hula-Hula” adalah Orang tua dari wanita yang dinikahi oleh seorang pria, namun hula-hula ini dapat diartikan secara luas. Semua saudara dari pihak wanita yang dinikahi oleh seorang pria dapat disebut hula-hula. Marsomba tu hula-hula artinya seorang pria harus menghormati keluarga pihak istrinya.
  2. Elek Marboru. Boru adalah anak perempuan dari suatu marga, misalnya boru gultom adalah anak perempuan dari marga Gultom. Dalam arti luas, istilah boru ini bukan berarti anak perempuan dari satu keluarga saja, tetapi dari marga tersebut. Elek marboru artinya harus dapat merangkul boru.Hal ini melambangkan kedudukan seorang wanita didalam lingkungan marganya.
  3. Manat Mardongan Tubu. Dongan Tubu adalah saudara-saudara semarga. Manat Mardongan Tubu melambangkan hubungan dengan saudara-saudara semarga.

      Dalihan Na Tolu ini menjadi pedoman hidup orang Batak dalam kehidupan bermasyarakat. Contoh lain adalah adat “Mangulosi” dalam pesta perkawinan orang Batak. Apakah artinya? Mangulosi ini adalah menyelimutkan ulos kepada kedua mempelai yang melambangkan pemberian restu orang tua kepada anaknya.

Jika ditelaah lebih dalam, seni budaya batak yang sudah dipakai sejak ratusan tahun yang lalu itu banyak mengandung segi positifnya.

      Namun ada beberapa hal negatif dari budaya batak yang harus kita tinggalkan, misalnya budaya banyak bicara sedikit bekerja. Memang orang batak terkenal pintar berbicara.

      Hal ini terlihat dari banyaknya pengacara-pengacara batak yang sukses. Akan tetapi kepintaran berbicara ini sering disalahgunakan untuk membolak-balikan fakta. Yang hitam bisa jadi putih dan yang putih bisa jadi hitam ditangan pengacara batak (walaupun tidak semua).

Hal lain yang negatif adalah budaya “HoTeL”. HoTeL adalah singkatan dari:

  1. Hosom yang artinya dendam. Konon orang batak suka mendendam sesama saudara
  2. Teal yang artinya sombong, yang dapat terlihat dari cara bicara, sikap hidup, dll.
  3. Late yang artinya Iri Hati.

Apakah HoTeL ini hanya ada pada orang Batak saja? Kita sebagai generasi muda harus dapat mempertahankan budaya yang positif dan meninggalkan yang negatif.